Lebaran atau Idul Fitri adalah hari raya dalam agama Islam yang dirayakan setahun sekali. Bagi umat Islam di Indonesia, lebaran menjadi sebuah momen besar bagi masyarakatnya yang mayoritas muslim. Adat istiadat perayaan Idul Fitri di Indonesia sangat beragam dan setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Keragaman ini tidak hanya mencakup tata cara perayaan, tapi juga hingga ke ranah makanan.
Apakah itu lebaran?
Lebaran dirayakan sebagai penanda akhir dari ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Idul Fitri jatuh di hari pertama bulan Syawal.
Istilah lebaran sendiri tidak berasal dari Bahasa Arab. Budayawan M.A. Salmun dalam artikel yang dimuat di majalah Sunda tahun 1954 menyebutkan bahwa Lebaran berasal dari tradisi Hindu yang berarti selesai, usai, atau habis. Maknanya adalah menandakan habisnya masa berpuasa di bulan Ramadhan. Istilah ini diperkenalkan oleh para Wali penyebar agama Islam agar penganut Islam yang berasal dari agama Hindu tidak merasa asing dengan agama barunya. Konon tradisi perayaan Lebaran pertama kali dilakukan oleh Sunan Bonang di abad ke-15.
Kata Lebaran berasal dari Bahasa Jawa ‘Lebar’ yang berarti ‘selesai’ atau ‘usai’ seperti dalam kata lebar mangan, lebar maghrib. Beberapa pendapat lain menyebutkan kata ‘Lebaran’ berasal dari bahasa Betawi “lebar” yang berarti luas, bahasa Sunda “lebar” yang berarti melimpah, dan Bahasa Madura “lober” yang berarti tuntas.
Kini istilah Lebaran digunakan oleh sebagian besar umat muslim di Indonesia untuk menyebut tradisi merayakan Idul Fitri.
Makanan dalam Tradisi Lebaran
Makanan khas lebaran biasa disajikan pada saat momen kumpul keluarga. Ketupat dan opor ayam adalah sajian makanan yang menjadi ciri khas saat Lebaran.
Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, satu dari sembilan Wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa pada abad ke-15 dan 16. Sunan Kalijaga mengembangkan istilah Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran adalah perayaan Idul Fitri dengan sholat Ied dan dilanjutkan dengan saling silaturahmi. Bakda Kupat dirayakan seminggu setelah Lebaran dengan cara merangkai jalinan daun kelapa dalam bentuk berlian yang kemudian diisi beras serta air dan akhirnya dimasak. Ketupat yang sudah jadi diberikan kepada tetangga sebagai tanda kebersamaan. Tradisi ini sangat populer sehingga tidak hanya tersebar di pulau Jawa, tetapi juga ke seluruh Indonesia dan juga negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam1.
Penggunaan Santan dalam Makanan Lebaran
Hidangan opor ayam sendiri merupakan adaptasi dari hidangan kari ayam India atau kari ayam Melayu. Penggunaan santan dalam hidangan opor ayam telah diterapkan sejak abad ke-15 untuk memberikan cita rasa khas bagi masakan Islam Jawa yang membedakan dengan makanan Hindu Jawa. Santan dalam kari membantu menambahkan tekstur creamy pada masakan dan meredam rasa pedas yang berlebihan. Dalam perkembangan selanjutnya, penggunaan santan dalam masakan kari menjadi hal yang umum di Indonesia.
Makanan Lebaran di Indonesia didominasi oleh beberapa tipe yaitu lontong dan sejenisnya (rice cake) sebanyak 31 macam, hidangan kari sebanyak 26 macam, rebus-rebusan sebanyak 18 macam, dan kue-kuean sebanyak 18 macam2. Dapat dilihat bahwa cukup banyak hidangan Lebaran, terutama jenis kari-karian, yang menggunakan santan dalam pembuatannya.
Hal ini dibuktikan juga dengan posisi Indonesia yang masuk dalam kategori moderat pengonsumsi santan dengan konsumsi per kapita 6.5-8.2 kg, sejajar dengan Thailand. Peringkat atas ditempati oleh Srilanka dan Samoa Barat dengan konsumsi santan per kapita 30-36 kg3. Hal tersebut tidak terlepas dari status Indonesia sebagai salah satu penghasil kelapa terbesar selain India dan Filipina, di mana ketiga negara ini menyumbang 70% dari total produksi kelapa dunia.
Krimer Sebagai Pengganti Santan
Seiring perkembangan jaman, proses masak memasak Lebaran menjadi semakin mudah. Bila dahulu proses menyiapkan bahan baku dan bumbu untuk masakan bisa memakan waktu beberapa jam, kini kita tinggal memasukkan bumbu instan ke dalam masakan, dan hidangan siap untuk dinikmati. Hal ini semakin membantu dalam proses masak memasak di dapur menjadi lebih cepat dan lebih efisien.
Kebutuhan akan bahan baku yang tahan lama ini juga menyinggung santan yang cepat basi. Mengingat banyaknya makanan Lebaran yang menggunakan santan, inovasi dalam penggunaan santan pada makanan sangat diperlukan.
Hadirlah krimer yang menjadi alternatif dalam menggantikan santan dalam masakan. Non-dairy creamer (NDC) adalah produk berwujud cair atau bubuk yang dibuat sebagai pengganti susu. Krimer memiliki masa simpan yang lama sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu panjang. Hal ini tentu saja lebih efisien dan lebih cost effective.
Krimer pertama kali dibuat di Amerika pada awal abad ke-20. Walaupun dibuat sebagai pengganti susu, dalam perkembangannya krimer semakin luas aplikasinya. Awalnya digunakan sebagai tambahan untuk minuman, krimer kemudian juga dibuat dalam proses pembuatan makanan. Untuk mencapai konsistensi tekstur dan rasa yang creamy, krimer digunakan untuk memasak makanan Lebaran, baik sebagai pengganti komponen susu atau pun sebagai pengganti santan.
Contoh Aplikasi Krimer Pada Makanan Lebaran
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, opor ayam merupakan makanan khas Lebaran yang menggunakan santan dalam proses pembuatannya. Santan tersebut dapat diganti dengan krimer dan opor ayam yang dimasak tidak terasa perbedaannya dengan yang dimasak dengan santan. Bahkan kuah opor yang menggunakan krimer cenderung lebih creamy dan lebih lembut di lidah.
Kue-kue kering seperti kue nastar, kue semprit, kue putri salju, kue lidah kucing, kastengel, dan lainnya, juga dapat menggunakan krimer sebagai komponen tambahan bahan pembuatnya. Semua itu tanpa mengurangi kualitas rasa dari makanannya.
Kesimpulan
Idul Fitri atau Lebaran adalah momen perayaan hari besar agama Islam yang juga menjadi ajang silaturahmi dan berkumpul bersama dengan keluarga. Hidangan khas Lebaran menjadi hidangan yang ditunggu-tunggu, mulai dari ketupat, opor ayam, sampai berbagai jenis kue kering. Untuk mempermudah penyiapan makanan khas Lebaran, krimer dapat menjadi alternatif santan dan susu. Selain memiliki masa simpan yang panjang, krimer juga lebih ekonomis serta memberikan tekstur yang lebih creamy terhadap makanan Lebaran favorit Anda.
Referensi:
- Ranti A, Novenia AE, Christopher A, Lestari D, Parassih EK. Ketupat as traditional food of Indonesian culture. J Ethn Foods. 2018;5:4–9.
- Prastowo, I., Moro, H.K.E.P., Nurusman, A.A. et al. Diversity of Indonesian Lebaran dishes: from history to recent business perspectives. J. Ethn. Food 11, 42 (2024). https://doi.org/10.1186/s42779-024-00257-z
- Suyitno T., Health Benefit of Coconut Milk. https://doi.org/10.22146/jifnp.102